pidato pendidikan karakter di era milenial

Sementaraitu, dalam paparannya Mustadji mengatakan di Era Milenial yang harus disegerakan adalah menjawab tantangan pendidikan berkarakter humanis. "Ini adalah era yang sangat dinamis, perkembangan terjadi begitu pesat, jadi jangan berdiam diri meratapi nasib. Kita harus sigap menyikapi era milenial ini", kata pria kelahiran Tuban ini
PengertianGenerasi Milenial. Secara umum, kamu yang termasuk generasi milenial adalah yang kira-kira lahir pada tahun 1981 - 1995. Pada era ini, komputer baru mulai booming, seiring dengan naik daunnya video games, gadget, smartphones, dan internet. Namun, saat itu semua yang serba komputer belum seperti sekarang ya, Quipperian.
- Generasi milenial, apa yang anda ketahui tentang istilah ini. Mungkin tidak banyak diketahui ya, menurut pengertiannya sendiri generasi ini merupakan generasi yang sudah melek secara teknologi. Karena perkembangan pesat teknologi yang ada pada zaman sekarang ini maka banyak orang mempunyai banyak peluang untuk berada jauh lebih maju apabila di bandingkan dengan generasi yang sebelumnya. Namun, pernahkah anda terfikir di era yang canggih ini memiliki pengaruh yang besar dalam pergerakan dunia yang menyebabkannya tanpa batas sehingga informasi baik positif maupun negatif akan bisa diperoleh dengan mudah kapan saja dan dimana saja. Maka, generasi kita khususnya para anak muda perlu dihimbau untuk menjadi bijak dalam memanfaatkan teknologi yang sudah ada ini. Pengaruh IPTEK atau ilmu pengetahuan dan teknologi harus sejalan dengan pemanfaatan yang baik. Dan sebenarnya hal ini tergantung dari pengguna nya itu sendiri. Maka, para orang tua, guru pendidik, orang disekitarnya sangat penting untuk menanamkan jiwa yang bijak dalam menyikapi era milenial ini. Dari mana anak muda yang biasa disebut generasi milenial ini mendapat pengetahuan yang saksama tentang baik buruknya era teknologi yang semakin canggih? Salah satu caranya adalah melalui Pidato yang bapak/ibu berikan seperti pidato pada upacara bendera di sekolah, pidato pada hari besar nasional, pidato umum, pidato himbauan secara kelompok dalam sebuah organisasi dan lain sebagainya. Apabila anda adalah seorang panitia atau orang yang memiliki tanggung jawab tertentu berencana untuk mengangkat topik tentang generasi milenial ini namun masih bingung untuk pembuatan naskah nya, article ini khusus dirancang untuk bantu anda. Pada article ini anda akan simak salah satu contoh pidato yang bertemakan Generasi Milenial. Anda bisa mengambilnya atau bahkan menjadikannya sebagai contoh dan referensi dalam pembuatan naskah pidato atau ceramah singkat lainnya. Contoh Pidato Singkat Tentang Generasi Milenial Yang Terhormat Bapak/Ibu Kepala Sekolah.. Yang saya hormati Bapak/Ibu guru serta staf -staf lainnya.. Yang saya banggakan para siswa dan siswi yang bapak banggakan.. Alhamdulillah.. Puji syukur mari kita panjatkan kepada ALLAH SWT, karena berkat rahmat dan segala karunianya yang telah diberikan untuk kita semua sehingga kita diperkenan untuk dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan baik dan sehat. Tak lupa juga sholawat dan salam semoga tercurahkan untuk junjungan kita semua, Nabi Muhammad SAW. Semoga pada akhirnya kita semua yang berada di tempat ini mendapatkan safaatnya di akhir jaman nanti, Amin ya robball alamiin.. Pada kesempatan kali ini saya senang untuk bisa berdiri di tempat ini untuk memberitahukan suatu kondisi yang patut diperhatikan oleh semua anak muda. Mungkin pemuda dan pemudi disini sudah tahu ya apa sih arti pemuda itu? Pemuda dan pemudi yakni kaum muda yang bersemangat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pembangunan bangsa kita ini, bangsa Indonesia. Dimana pemuda akan menjadi harapan untuk kemajuan negara melalui ide -ide kreatif, berilmu dan juga berwawasan luas sesuai dengan norma dan hokum yang berlaku. Nah, pada zaman sekarang ini kita telah memasuki era baru yang biasa kita sebut dengan generasi milenial. Sekarang informasi sangat mudah di dapat, dimana saja dan kapan saja kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan. Karena kemudahan inilah kita terkadang tidak bisa memilah mana informasi yang baik dan mana yang tidak pantas. Dunia menjadi semakin tanpa batas, maka para anak muda atau generasi muda saya himbau untuk jangan sesekali berfikir untuk mengikuti tren dunia ini yang semakin buruk tanpa memfilternya sama sekali. Kalian sebagai pelanjut generasi perjuangan harus selektif dan tidak ingin diolah oleh perkembangan teknologi. Sebaliknya kalian lah yang mengolah teknologi untuk kemajuan bangsa. Untuk bisa meningkatkan kualitas dan kinerja untuk generasi ini, kalian dituntut untuk belajar secara cepat, beradaptasi dengan cepat dan juga melakukan segala sesuatu yang kreatif untuk bisa memecahkan masalah apapun yang timbul. Jangan sampai anda dan saya hanya menjadi penonton dari persaingan ketat pada era milenial sekarang ini. Mari teruslah belajar dan manfaatkan perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Contoh kecil nya saja, gunakanlah Handphpne smartphone atau yang berbasis android milik anda hanya untuk bermain game atau bermain jejaring social, namun sebaliknya sediakanlah waktu untuk belajar dan juga melihat perkembangan informasi yang ada. Mungkin ini sedikit yang bisa saya sampaikan semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Kurang lebihnya saya mohon maaf dan akhir kata saya ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.. Baca Juga Contoh Pidato tentang Kesehatan Contoh Pidato tentang Kedisiplinan Contoh Pidato tentang Kebersihan Inilah sekilas tentang contoh pidato yang bertemakan generasi milenial atau generasi modern. Semoga dengan adanya informasi ini bisa sangat membantu anda semua dalam menyampaikan pidato terbaik dan bisa meningkatkan percaya diri. Jangan ragu untuk munculkan ide -ide baru. Anda bisa tambahkan hal -hal yang menurut anda baik untuk disampaikan. Bahan pidato ini juga bisa anda gunakan sebagai naskah ceramah singkat, ceramah umum, khotbah umum untuk khalayak ramai, himbauan, dan juga bahan ajar yang efektif. Sekian informasi ini, semoga bermanfaat dan terima kasih.
Pendidikankarakter tersebut dapat terwujud dengan mengajarkan 4 aspek pada generasi muda bangsa yaitu, kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan sosial (SoQ). Ke-4 aspek tersebut bila diajarkan dalam pendidikan karakter maka akan membentuk pribadi yang berkarakter baik dan santun.
ArticlePDF Available AbstractThe discourse on character education is never dry, because until now, Indonesia is still orienting its education towards building national character. But this paper is a little different. Here, the character education model is more flexibly formulated to respond to the reality of the millennial era. Because the presence of the millennial era is a consequence of globalization, it is feared that many parties will weaken the nation's morality and personality. So that with a more flexible formula, it is expected that the millennial generation will be more comfortable following the learning process, without having to lose their ideal character as a generation that is critical, creative, and cultured. With methodological creations this paper tries to offer a model of character education that further suppresses the media-based learning process on four things scientific honesty, tabayyun method cross check, encouraging creativity, and building humanist interactions. An educational idea for the millennial generation, which requires the running of an information technology-based education process while being oriented towards character building Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202268Volume 9 No. 2, Juli-Desember 2022P-ISSN 2406-808X // E-ISSN 2550-0686 Karakter di Era MilenialMustamar Iqbal SiregarIAIN Langsa –Acehmustamariqbalsiregar discourse on character education is never dry, because until now,Indonesia is still orienting its education towards building national character. But thispaper is a little different. Here, the character education model is more flexiblyformulated to respond to the reality of the millennial era. Because the presence of themillennial era is a consequence of globalization, it is feared that many parties willweaken the nation's morality and personality. So that with a more flexible formula, itis expected that the millennial generation will be more comfortable following thelearning process, without having to lose their ideal character as a generation that iscritical, creative, and cultured. With methodological creations this paper tries to offera model of character education that further suppresses the media-based learningprocess on four things scientific honesty, tabayyun method cross check,encouraging creativity, and building humanist interactions. An educational idea forthe millennial generation, which requires the running of an information technology-based education process while being oriented towards character Character, and Millennial tentang pendidikan karakter tak pernah kering, karena hingga saat ini,Indonesia masih mengorientasikan pendidikannya ke arah pembangunan karakterbangsa. Namun tulisan ini sedikit berbeda. Di sini, model pendidikan karakter lebihdiformulasikan secara fleksibel untuk merespon realitas era milenial. Sebab kehadiranera milenial sebagai konsekuensi globalisasi, dikhawatirkan banyak pihak akanmenggerus moralitas dan kepribadian bangsa. Sehingga dengan formula yang lebihfleksibel tersebut, diharapkan generasi milenial lebih nyaman mengikuti prosespembelajaran, tanpa harus kehilangan karakter idealnya sebagai generasi yang kritis,kreatif, dan berbudaya. Dengan kreasi metodologis tulisan ini mencoba menawarkanmodel pendidikan karakter yang lebih menekan proses pembelajaran berbasis mediapada empat hal kejujuran ilmiah, metode tabayyun cross check, mendorongkreativitas, dan membangun interaksi humanis. Sebuah gagasan pendidikan untukgenerasi milenial, yang menghendaki berjalannya proses pendidikan berbasisteknologi informasi sekaligus berorientasi pada pembangunan KunciPendidikan, Karakter, dan Era PendahuluanSeorang futurolog kenamaan Alvin Toffler membagi tahap kehidupan manusia kedalam tiga masa, yakni masa agricultural atau collision of waves, masa industry atau the Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202269architecture of civilization, dan globalisasi atau the new synthesis1. Pada tahapan yangpertama, masa agricultural, ditandai oleh orientasi kehidupan pada masa lampau,menggunakan teknologi sederhana, bekerja tanpa perencanaan, kurang menghargai waktu,pertemuan face to face, ukuran kekayaan pada tanah dan hewan ternak. Sedangkan pada masaindustri dan globalisasi ditandai oleh orientasi kehidupan pada masa sekarang dan yang akandatang, menggunakan teknologi modern, bekerja dengan perencanaan, amat menghargaiwaktu, pertemuan jarak jauh, ukuran kekayaan pada penguasaan ilmu dan teknologi, dankhusus pada era globalisasi ditandai oleh penggunaan teknologi informasi dan komunikasiyang canggih berupa komputer, handphone, digital tecknology, dalam bentuk internet, smallmessage system, facebook, washapp, youtobe, instagram, dan milenial merupakan konsekuensi lanjutan next consequent dari gelombangketiga yang menekankan globalisasi. Kata millennial berasal dari bahasa Inggris millenniumatau millennia yang berarti masa seribu rahun2. Millennia selanjutnya menjadi sebutan untuksebuah masa yang terjadi setelah era global, atau era modern. Karena itu, era millennial dapatpula disebut era post-modern. Era ini oleh sebagian pakar diartikan sebagai era back tospiritual and moral atau back to religion, yaitu masa kembali kepada ajaran spiritual, moraldan agama. Makanya era millennial sebagaimana yang terjadi saat ini selain memiliki ciri-ciriera post modern, juga masih memiliki ciri-ciri era globalisasi yang antara lain ditandaidengan adanya persaingan yang ketat sebagai akibat dari pasar bebas free market; tuntutanuntuk memperoleh perlakuan yang lebih adil, egaliter, manusiawi, dan demokratis, sebagaiakibat dari fragmentasi politik; hegemoni politik sebagai akibat dari adanyakesalingtergantungan interdependensi; harus belajar kembali sebagai akibat dari kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi; serta adanya kemerosotan moral moral decadency sebagaiakibat dari masuknya budaya baru yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran yang demikian itu merupakan tantangan tersendiri bagi prosesjalannya pendidikan di Indonesia, yang saat ini sedang gencar-gencarnya menyuarakanrevolusi mental, atau pendidikan karakter. Tantangan yang hadir dalam bentuk pergeseranshifting kultural itu tidak dapat dihadapi dengan sikap depensif. Sebaliknya, meminjamistilah Amin Abdullah4, dibutuhkan cognitive flexibility dalam merespon perkembanganjaman, namun tidak pula mengekor seperti kerbau yang tusuk hidungnya. Artinya dalamkonteks kekinian, dibutuhkan kemahiran dalam merumuskan seperti apa model pendidikankarakter yang tepat untuk dilakukan di era milenial. Supaya peserta didik generasi milinealmerasa nyaman belajar, unggul dan berprestasi, produktif, kreatif, dan Defenisi Pendidikan KarakterPendidikan diartikan sebagai bentuk usaha manusia dewasa yang telah sadar akankemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai sertadasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda untuk mengubah dan meningkatkankualitas personalnya5. M. Ngalim Purwanto mendefinisikan pendidikan sebagai usahameningkatkan kemampuan individu, khususnya anak, berupa pimpinan yang diberikan1Alvin Toffler, Author of Future Shock, The Third Wave, New York William Morrow and Company,Inc, 1980, hal. M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Cetakan Ketujuh, Jakarta 1980, hal. Bell, Introduction of Cyberculture, London Routledge, 2001, hal. diakses pada tanggal 12 Desember 2018, Fisafat Pendidikan Untuk IAIN, PTAIN, PTAIS, Cetakan ke-dua, Bandung CV. PustakaSetia, 2000, hal. 13. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202270dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak dalam pertumbuhannya jasmani dan rohaniagar berguna bagi diri sendiri dan masyarakat6. Berbeda lagi dengan para tokoh UNESCOyang mendefenisikan pendidikan sebagai “education is now engaged is preparinment for atipe society which does not yet exist“, atau pendidikan sekarang yang terlibat dengan seriusuntuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang belum ada7. Sementaramenurut Garten. V. Good dalam dictionary of education mengemukakan bahwa pendidikanmengandung pengertian sebagai suatu proses perkembangan kecakapan seseorang dalambentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakat dan professionalitas di manaseseorang dipengaruhi oleh sesuatu yang D. Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secarasadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menujuterbentuknya keperibadian yang utama. Pengertian pendidikan ini juga dijelaskan dalamUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989, "pendidikan dirumuskansebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajarandan atau latihan bagi perannya di masa yang akang datang.”Sedangkan dalam pengertianyang luas dijelaskan bahwa pendidikan meliputi perbuatan atau semua usaha generasi tuauntuk mengalihkan melimpahkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan sertaketerampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapatmemenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. Tetapi, beragam pandangantersebut memiliki titik temu persamaan pada pengertian yang mengatakan bahwa pendidikanmerupakan suatu proses orang dewasa yang secara sengaja mengarahkan pertumbuhan atauperkembangan seseorang yang belum dewasa. Proses yang dimaksud adalah kegiatanmengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai-nilai yang merupakan jawabanatas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Maka, dengan pengertian atau definisi itu,kegiatan atau proses pendidikan hanya berlaku pada manusia, tidak pada hewan" karakter berasal dari bahasa yunani yaitu “charassein” yang maknanyamengukir sehingga terbentuk sebuah pola10. Proses pendidikan adalah proses “pengukiran”dan “nurturing” atau bahasa kitab sucinya proses “rabbanî”11yaitu pengukiran lewat prosespembiasaan, keteladanan, kedisiplinan dan sebagainya, sehingga terbentuklah sebuah polatingkah laku yang mulia, serta mukmin dan muttaqin. Kalau tidak, maka menurut Confuciusmanusia berubah menjadi etimologis, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahlipsikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkantindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itudapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untukkondisi- kondisi tertentu136M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Edisi Kedua, Cetakan Kelimabelas,Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2003, hal. Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Cetakan Pertama, Malang Bayu Media Publishing,2004, hal. Djumransjah, Pengantar..., hal. 249Anwar Jasin, Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam Tinjauan Filosofis, JakartaConference Book, London, 1985, hal. Karen; D. Farmer, Kevin Ryan, Building Character in Schools Resource Guide, CaliforniaJossey Bass, 2001, hal. 4411Simak surat Ali Imran 79 “Walakin kûnû rabbaniyyîna”.12David Brooks and Goble, F. The Case for Character Education The Role of the School in TeachingValues and Virtue, California Studio 4, 1997, hal. Singh dan Mr. Agwan, Encyclopaedia of the Holy Qur’ân, New Delhi Balaji Offset,2000, Edisi I hal. 175. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202271Istilah karakter dan kepribadian atau watak sering digunakan secara bertukar-tukar,tetapi menurut Allport yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, menunjukkan kata watak berartinormatif, serta mengatakan bahwa watak adalah pengertian etis dan menyatakan bahwacharacter is personality evaluated and personality is character devaluated watak adalahkepribadian yang dinilai, dan kepribadian adalah watak yang dinilai. Jadi, karaktermerupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Mah Esa, dirisendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan pada norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya, dan adat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepadapopulasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta pembentukan dunia dipenuhidengan kebaikan dan kebijakan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan faktor yang menjadi unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalahpikiran. Karena pikiran, yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk daripengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya16. Program ini kemudian membentuksistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisamempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika programtersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawakerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkanperhatian serius. Dalam hal pikiran ini, Joseph Murphy mengatakan bahwa di dalam dirimanusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri yang berbeda. Untuk membedakan ciritersebut, maka istilahnya dinamakan dengan pikiran sadar conscious mind atau pikiranobjektif dan pikiran bawah sadar subconscious mind atau pikiran kenapa tujuan dan fungsi penyelenggaraan pendidikan nasional diarahkan padaupaya untuk mendidik, membimbing, membina, mengajarkan, membentuk manusia Indonesiayang berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mampumewujudkan atau mengembangkan segala potensi yang ada pada diri manusia dalamberbagai konteks dimensi seperti moralitas, keberagaman, individualitas personalitas,sosialitas, keberbudayaan yang menyeluruh dan terintegrasi. Hal ini termaktub dalamUndang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional, sebagaimana yang termuat pada Bab II Pasal 3, bahwa“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watakserta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupanbangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab” undang-undang tersebut di atas, dapat dimaknai sebagai upaya pendidikanuntuk mendorong terwujudnya generasi-generasi penerus bangsa yang memiliki karakterreligius, berakhlak mulia, cendekia, mandiri, dan demokratis. Pembangunan karakter yangmerupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi14Ahmad Tafsir, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung Remaja Rosdakarya, 2011, hal. Samani, Hariyanto, Konsep dan dan Model Pendidikan Karakter, Bandung RemajaRosdakarya, 2012, hal. Byrne, The Secret, Jakarta PT Gramedia, 2007, Murphy, Rahasia Kekuatan Pikiran Bawah Sadar, Jakarta Spektrum, 2002, hal. Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202272oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti disorientasi danbelum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalammewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa danbernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasibangsa; dan melemahnya kemandirian mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimanadiamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahankebangsaan saat ini, maka pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satuprogram prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalamRencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN tahun 2005-2025, dimanapendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunannasional, yaitu “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya,dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila” Karakteristik Era MillenialGenerasi millennial adalah salah satu kelompok usia dari beberapa kelompokpembagian subkultur berdasarkan usia20. Pembagian generasi, atau yang biasa disebutgenerasi kohort cohorts generation merupakan salah satu hal yang perlu diperhatian dalampengambilan keputusan pemasaran manajerial2122mengungkapkan bahwa generasimillennial lahir di antara tahun 1980 hingga adalah kata benda yang berarti pengikut atau kelompok. Saat ini ada empatcohort besar dalam demografi, yaitu Baby Boomer lahir pada tahun 1946- 1964, Gen-Xlahir pada tahun 1965-1980, Millennial lahir pada tahun 1981-2000, dan Gen-Z lahirpada tahun 2001-sekarang. Dalam literatur lain, Menurut Absher dan Amidjaya bahwagenerasi millennial merupakan generasi yang lahirnya berkisar antara 1982 sampai dengan2002, selisih yang tidak terlalu signifikan23. Generasi millennial saat ini pada tahun 2017adalah mereka yang berusia 17-36 tahun; mereka yang kini berperan sebagai mahasiswa,early jobber, dan orangtua muda; seperti Afgan, Raisa, Agnes Monica, dan Raffi ini mereka adalah idola masyarakat dengan ciri khas musik yang agak mellow danlirik selalu dibumbui percintaan dan data BPS yang dikeluarkan pada tahun 2013, jumlah millennial Indonesiapada tahun 2015 diperkirakan mencapai 33% dari total penduduk Indonesia. Artinya, totalpopulasi millennial pada tahun 2015 mencapai 83 juta jiwa. Pada tahun 2020, proporsimillennial dapat mencapai 34% yang akan berada pada usia 20 hingga 40 tahun. Pada tahuntersebut, generasi millennial akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia karenamulai berkurangnya populasi Gen-X dan Baby Boomer. Dengan demikian, terjadilah bonusdemografi. Populasi millennial terbanyak berada di pulau Jawa yang diperkirakan pada tahun2015 ada 47 juta dalam era millenial ini seperti google generation, net generation, echoboomers, dan dumbest generation. Oleh karena itu, masyarakat generasi millennial itu bisaditandai dengan meningkatnya penggunaan alat komunikasi, media dan teknologi informasi19Kemendiknas, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Jakarta Panduan PelaksanaanPendidikan Karakter, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011, hal. G. Schiffman & L. L. Kanuk, Consumer Behavior Tenth Ed, New Jersey Pearson, 2010.21P. C. Motta & C. Schewe, Are marketing management decisions shaped during one’s coming of age?Journal of Marketing Management Decisions, 1096-1110 tahun W. Fore, Next Generation Leadership Millennials as Leaders, United States ProQuest LLC,2012.23H. Ali & Lilik Purwandi, Millennial Nusantara Pahami Karakternya, Rebut Simpatinya, Jakarta PTGramedia Pustaka Utama, 2017, hal. Ali & Lilik Purwandi, Millennial..., hal. 8-11. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202273yang digunakan. Misalnya internet, MP3 player, youtube, facebook, instagram dan lainsebagainya. Generasi millennial merupakan inovator, karena mereka mencari, belajar danbekerja di dalam lingkungan inovasi yang sangat mengandalkan teknologi untuk melakukanperubahan di berbagai aspek Ali dan Lilik Purwandi menyimpulkan bahwa masyarakat Urban Middle-Class Millennial memiliki tiga karakter utama, yaitu 3C; connected, creative, dan connected, di mana generasi millennial adalah pribadi yang pandai bersosialisasi,terutama dalam komunitas yang mereka ikuti serta berkelana di media sosial. Kedua,creative, yaitu generasi yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan sertamampu mengomunikasikannya secara cemerlang yang dibuktikan dengan tumbuhnya industriyang dimotori oleh anak muda. Ketiga, confidence, yang ditandai dengan sikap percaya diri,berani mengungkapkan pendapat, serta tidak sungkan berdebat di depan publik, seperti yangterjadi di media gambar sudah banyak studi tentang generasi millenial di dunia, terutama diAmerika. Di antaranya studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group BCG bersamaUniversity of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American MillennialsDeciphering the Enigma Generation. Tahun sebelumnya, 2010, Pew Research Center jugamerilis laporan riset dengan judul Millennials A Portrait of Generation penelitian-penelitian tersebut, karakteristik generasi millenial antara lainditandai dengan1. Millennial lebih percaya User Generated Content UGC daripada dibilang generasi millennial tidak percaya lagi kepada distribusi informasiyang bersifat satu arah. Mereka lebih percaya kepada user generatedcontent UGC atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Merekatidak terlalu percaya pada perusahaan besar dan iklan sebab lebih mementingkanpengalaman pribadi ketimbang iklan atau review konvensional. Dalam hal polakonsumsi, banyak dari mereka memutuskan untuk membeli produk setelahmelihat review atau testimoni yang dilakukan oleh orang lain di Internet. Merekajuga tak segan-segan membagikan pengalaman buruk mereka terhadap Millennial lebih memilih ponsel dibanding Fatmawati, “. P. 2010, Agustus. Fatmawati, Endang. Visi Pustaka, 122.26H. Ali & Lilik Purwandi, Millennial..., hal. UrbanMiddle ClassMillenials Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202274Generasi ini lahir di era perkembangan teknologi, Internet juga berperan besardalam keberlangsungan hidup mereka. Maka televisi bukanlah prioritas generasimillennial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan. Bagikaum millennial, iklan pada televisi biasanya dihindari. Generasi millennial lebihsuka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atauperbincangan pada forum-forum yang mereka ikuti, supaya tetap Millennial wajib punya media di antara generasi millennial sangatlah lancar. Namun, bukan berartikomunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya. Banyakdari kalangan millennial melakukan semua komunikasinya melalui text messagingatau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profildirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line. Kemudian akun media sosial jugadapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulistentang dirinya adalah apa yang akan semua orang baca. Jadi, hampir semuagenerasi millennial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempatberkomunikasi dan Millennial kurang suka membaca secara orang yang suka membaca buku turun drastis pada generasi generasi ini, tulisan dinilai memusingkan dan millennial bisa dibilang lebih menyukai melihat gambar, apalagi jikamenarik dan begitu, millennial yang hobi membaca buku masih tetap ada. Namun,mereka sudah tidak membeli buku di toko buku lagi. Mereka lebih memilihmembaca buku online e-book sebagai salah satu solusi yang mempermudahgenerasi ini, supaya tidak perlu repot membawa buku. Sekarang ini, sudah banyakpenerbit yang menyediakan format e-book untuk dijual, agar pembaca dapatmembaca dalam ponsel Millennial lebih tahu teknologi dibanding orangtua semua serba digital dan online, tak heran generasi millennial jugamenghabiskan hidupnya hampir senantiasa online 24/7. Generasi ini melihat duniatidak secara langsung, namun dengan cara yang berbeda, yaitu dengan berselancardi dunia maya, sehingga mereka tahu segalanya. Mulai dari berkomunikasi,berbelanja, mendapatkan informasi dan kegiatan lainnya, generasi millennialadalah generasi yang sangat modern, lebih daripada orang tua mereka, sehinggatak jarang merekalah yang mengajarkan teknologi pada kalangan Millennial cenderung tidak loyal namun bekerja pada tahun 2025 mendatang, millennial akan menduduki porsitenaga kerja di seluruh dunia sebanyak 75 persen. Kini, tak sedikit posisipemimpin dan manajer yang telah diduduki oleh millennial. Seperti diungkap olehriset Sociolab, kebanyakan dari millennial cenderung meminta gaji tinggi,meminta jam kerja fleksibel, dan meminta promosi dalam waktu setahun. Merekajuga tidak loyal terhadap suatu pekerjaan atau perusahaan, namun lebih loyalterhadap dirinya sendiri. Millennial biasanya hanya bertahan di sebuah pekerjaankurang dari tiga tahun. Namun demikian, sebab kaum millennial hidup di erainformasi yang menjadikan mereka tumbuh cerdas, tak sedikit perusahaan yangmengalami kenaikan pendapatan karena memperkerjakan Millennial mulai banyak melakukan transaksi secara teknologi menyebabkan kaum milenial lebih menyukai modeltransaksi pembelian yang bersifat tunai cashless. Generasi ini lebih suka tidakrepot membawa uang, karena sekarang hampir semua pembelian bisa dibayar Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202275menggunakan kartu, sehingga lebih praktis, hanya perlu gesek atau tapping, baiksaat menumpang transportasi umum, hingga berbelanja baju dengan kartu kreditdan kegiatan jual beli lain generasi milenial diungkapkan Abuddin Nata yang antara lain1 suka dengan kebebasan; 2 senang melakukan personalisasi; 3 mengandalkan kecepataninformasiyang instant siap saji; 4 suka belajar; 5 bekerja dengan lingkungan inovatif, 6aktif berkolaborasi, dan 7 hyper technology288 critivcal, yakni terbiasa berfikir out of thebox, kaya ide dan gagasan; 9 confidence, yakni mereka sangat percaya diri dan beranimengungkapkan pendapat tanpa ragu-ragu; 10 connected, yakni merupakan generasi yangpandai bersosialisasi, terutama dalam komunitas yang mereka ikuti; 11 berselancar di sosialmedia dan internet29; 12 sebagai akibat dari ketergantungan yang tinggi terhadap internetdan media sosial, mereka menjadi pribadi yang malas, tidak mendalam, tidak membumi, atautidak bersosialisasi; 13 cenderung lemah dalam nilai-nilai kebersamaan, kegotong-royongan, kehangatan lingkungan dan kepedulian sosial; 14 cenderung bebas, kebarat-baratan dan tidak memperhatikan etik dan aturan formal, adat istiadat, serta Pendidikan Karakter untuk Generasi MillenialMengelola pendidikan di era milenial sudah tidak bisa dengan model pendidikankonvensional. Kecenderungan minat siswa yang dihadapi kini oleh para pengajar di sekolahsudah tidak sama dengan siswa masa lalu. Konsep pendidikan masa lalu, dalam gambaranFreire, disebut sebagai pendidikan gaya bank, yang justru mempertajam permasalahankontradiksi guru dan murid, dan miskin solusi. Bahkan Freire menyebutnya sebagaipendidikan kaum tertindas yang mencirikan a Guru mengajar, murid belajar; b Gurumengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa; c Guru berfikir, murid difikirkan; dGuru bercerita, murid patuh mendengarkan cerita; e Guru menentukan peraturan, muridpatuh diatur; f Guru memilih dan memaksakan pilihannya; g Guru berbuat, muridmembayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya; h Guru memilih bahan dan isipelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran itu; i Guru mencampuradukkankewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untukmenghalangi kebebasan murid; j Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid hanyalahobjek itulah, Freire manawarkan suatu konsep pendidikan yang disebut dengan“pendidikan pembebas”, yang menawarkan beberapa tawaran yang cukup signifikan untukmenjadikan siswa kreatif dan kritis dalam proses belajar a Pembaca harus mengetahui perandirinya; b Pada dasarnya praktek belajar adalah bersikap terhadap dunia; c Kapan sajamempelajari sesuatu, kita dituntut menjadi lebih akrab dengan bibliografi yang telah kitabaca, dan juga bidang studi secara umum atau bidang studi yang kita dalami; d Prilaku27Agnes Winastiti, Generasi Milenial dan Karakteristiknya, diakses dari pada tanggal 10/12/2018, pukul Tapscott, Grown Up Digital How the Net Generation is Changing Your World, AmerikaMcGraw Hill Professional, 2008.29Abuddin Nata, Pendidikan Islam di Era Milenial, IAIN Raden Fatah Jurnal Pendidikan IslamConciencia, diakses dari pada tanggal 12 Desember 2018, pukul hal. Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Utomo Dananjaya, dkk, Jakarta LP3ES, 2000, Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202276belajar mengasumsikan hubungan dialektis antar pembaca dan penulis yang refleksinya dapatditemukan dalam tema teks tersebut, dan; e Prilaku belajar menuntut rasa rendah yang demikian itu disebabkan karena perubahan world view pandangan duniaterhadap ideologi yang berkembang. Kini, di hampir seantero dunia, suasana pendidikan telahdi-framing dengan nilai-nilai demokrasi. Cita-cita penyelenggaraan pendidikan dimuarakanpada upaya demokratisasi. Maka salah satu asupan ideologis generasi milenial saat ini adalahpendidikan demokratis. Dengan demokratisasi pendidikan setidaknya akan mendorong padamanifestasi tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis32,yakni suatu tatanan masyarakat yang telah memiliki sistem yang mengatur segala kegiatandengan baik, baik yang bersifat internal maupun ekternal. Maka dalam konteks pendidikan,proses demokratisasi pendidikan sejatinya membawa manfaat pada upaya reformasi praktikkehidupan ke arah terbangunnya 1 Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia; 2 Setiapmanusia memiliki perubahan ke arah pemikiran yang sehat; 3 Rela berbakti untukkepentingan dan kesejahteraan bersama33. Atau dalam kata lain, pendidikan sebagai haksetiap bangsa harus menghargai hak azasi manusia. Tidak boleh ada diskriminasi, apalagieksploitasi. Semua proses penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan kebutuhandasar manusia, berorientasi pada manusia dan kemanusiaan human and humanity oriented.Prinsip-prinsip demokrasi pendidikan di atas dipengaruhi oleh ide-ide dan yang lahirdari alam pikiran, sifat, dan jenis masyarakat dimana mereka berada. Sudah barang tentudalam sebuah masyarakat yang hidup di Indonesia, dengan ideologi demokrasi pancasilasebagai way of life, maka kultur pendidikan yang terbangun juga tidak terlepas dari nilai-nilaidemokrasi itu sendiri. Karena pengembangan demokrasi pendidikan itu sangat dipengaruhioleh latar belakang kehidupan dan penghidupan masyarakat34. Perubahan model pendidikandari paradigma lama old paradigm ke arah demokrasi akan turut mengubah kulturpembelajaran. Sebagai contoh, guru yang dulunya dianggap sebagai transformator ilmukepada peserta didik, kini telah berubah menjadi fasilitator, dinamisator, mediator, danmotivator35. Keberadaan guru yang seperti inilah, menurut Paolo Freire, akan membuka krankebebasan, sekaligus mendorong terciptanya proses interaksi dinamis antara pendidik danpeserta didiknya dalam proses pembelajaran di kelas36. Jadi demokrasi pendidikan akanmendorong tumbuhnya iklim egalitarian kesetaraan atau kesamaan derajat dalamkebersamaan antara pendidik dan peserta didik. Di samping itu demokrasi pendidikan31Paulo Freire, Politik Pendidikan,Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Penerjemah AgungPrihantoro, dkk, Yogyakarta Read bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2000, hal. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, Cetakan pertama,Yogyakarta Safiria Insani Press, 2003, hal. dalam pendidikan menjamin nilai-nilai persaudaraan dan hak manusia denganmemandang perbedaan antara satu dengan yang lainnya baik hubungan antara sesama peserta didik atauhubungan antara peserta didik dengan gurunya yang saling menghargai danmenghormati. Dari acuan prinsipinilah timbul pandangan bahwa manusia itu harus dididik, karena dengan pendidikan itu manusia akan berubahdan berkembang kearah yang lebih sehat, baik, dan sempurna. Sedangkan poin ketigamengacu pada asumsibahwasanya kesejahteraan dan kebahagiaan hanya akan dapat tercapai apabilasetiap warga negara atau anggotamasyarakat dapat mengembangkan tenaga atau pikirannya untuk memajukan kepentingan bersama. Lebih lanjutlihat; M. Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan..., hal. Fisafat..., hal. kerangka demokrasi, fasilitator pendidik harus memberi kesempatan kepada peserta didikuntuk menemukan sendiri makna informasi yang diterimanya. Sebagai dinamisator, pendidik harus berusahamenciptakan iklim pembelajaran yang dialogis dan berorientasi pada proses. Sebagai mediator, pendidik harusmemberikan rambu-rambu atau arahan agar peserta didik bebas berjalan. Sebagai motivator, pendidik harusselalu memberikan dorongan kepada peserta didik bersemangat dalam menuntut ilmu. Lebih lanjut lihat;Abdullah Idi Dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Cetakan pertama, Yogyakarta; Tiara Wacana,2006, hal. Idi Dan Toto Suharto, Revitalisasi..., hal. 155. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202277merupakan cara yang paling strategis bagi pembentukan civil society37. Sehingga sistemdemokrasi pendidikan akan dapat mengacu kepada proses pendidikan yang dilaksanakansesuai dengan cita-cita dan kehendak civil Indonesia, demokrasi sebagai framing besar pendidikan nasional berorientasi padapembentukan karakter. Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, danmenjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan mulia tersebut tentusaja bermuara pada adab. Supaya peserta didik menjadi manusia paripurna yangkarakteristiknya layak untuk dibebankan amanah dalam mengurusi berbagai persoalankehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih menjadi pemimpin di berbagai saja, di tengah realitas generasi milenial sekarang ini, setidaknya akanmemunculkan tiga dilema terkait upaya pendidikan karakter. Pertama, kehadiran teknologiinformasi mutakhir akan berakibat lahirnya sistem pembelajaran yang mekanik. Interaksiyang paling menguat di sini adalah interaksi mesin teknologi. Sehingga interaksi humanisbaik antara guru dengan siswa maupun antarsesama siswa akan tergerus. Kedua, konsekuensidari era milenial akan memanjakan peserta didik. Spirit kerja keras dan belajar keras studyhard di kalangan guru dan siswa akan melemah karena segalanya secara instan tersaji dalamlayanan internet. Alhasil kreatifitas peserta didik juga akan menurun. Mereka akan lebihgemar meniru ketimbang menciptakan yang baru. Dan ketiga, tingkat orisinalitas karya akanmenurun. Oleh karena kecanggihan teknologi dalam menyajikan data, tidak sedikit dosen,guru, mahasiswa, dan siswa yang membuat karya secara demikian, untuk menyikapi hal tersebut tidak lantas solusinya denganmeniadakan perangkat teknologi dalam proses pembelajaran. Itu sama saja denganmengembalikan pendidikan ke paradigma lama. Jika itu terjadi, maka sekolah kembalimenjadi tempat yang membosankan, menjenuhkan, bahkan menakutkan bagi peserta sistem pembelajaran yang baik, selain efektif dan efisien, juga harus mempunyaidaya tarik39. Sementara generasi milenial, yang lebih tepat disebut sebagai “generasi media”,adalah generasi yang tiada hari tanpa media. Tentu saja pembelajaran yang menarik bagimereka adalah pembelajaran yang berbasis media. Untuk itu, diperlukan pendekatan barudalam mendampingi siswa ketika menggunakan media dalam proses pembelajaran, yangmenurut Arsyad diklasifikasikan pada empat kelompok40 1 Media hasil teknologi cetak; 2Media hasil teknologi audio-visual; 3 Media hasil teknologi berbasis komputer; 4 Mediahasil gabungan teknologi cetak dan penulis, beberapa penekanan yang perlu dilakukan oleh guru dalam prosespembelajaran terhadap generasi milenial antara lain, pertama, kejujuran ilmiah. Dalamkonteks ini seorang guru atau dosen harus benar-benar memeriksa karya tulis siswa, apakahorisinal atau plagiasi. Dengan alat bantu teknologi sebetulnya guru dan dosen dengan begitumudah dapat mendeteksi orisinalitas karya siswa melalui aplikasi. Namun tidak semua guru37Menurut Dawam Raharjo, muncul tiga asumsi seputar hubungan civil society dengan demokrasi,pertama; demokrasi hanya dapat berlangsung apabila social society sudah kuat. Kedua; demokrasi hanya dapatberlangsung apabila peranan negara dikurangi tanpa mengurangi aspek efektivitas dan efisensi yangmenyertainya dan pertimbangan pembagian kerja yang saling memperkuat antara masyarakat dan demokratisasi dapat berkembang melalui peningkatan kemandirian atau independensi civil society daritekanan dan kooptasi negara. Dari korelasi diatas pendidikan sungguhnya bisa menjadi sarana yang strategisbagi penciptaan civil society dan demokrasi. Lihat; Abdullah Idi Dan Toto Suharto, Revitalisasi..., hal. Idi Dan Toto Suharto, Revitalisasi..., hal. Deni Kurniawan, Cepi Riyana, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi danKomunikasi; Mengembangkan Profesionalitas Guru, Jakarta PT. Rajagrafindo Persada, 2013, hal. Arsyad, Media Pembelajaran, JakartaGrafindo Persada, 2002, hal. 35. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202278dan dosen melakukan ini. Apalagi jika karya tulis tersebut dikumpul dalam bentuk hard para guru dan dosen dapat mengantisipasinya dengan turut mengumpulkan softcopy karya tulis siswa, supaya memudahkan mereka untuk mendeteksi begitu, peserta didik akan terlatih bersikap jujur dan bertanggungjawab. Dan tradisikejujuran ilmiah akan terbangun dalam proses metode tabayyun. Istilah tabayyun merupakan terminologi Islam yangdireaktualisasi sebagai “senjata” dalam merespon fenomena hoax berita bohong yang akhir-akhir ini menghantui generasi milenial. Metode ini dirujuk dari al-Qur’an, dimana Allahmengatakan“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepada kamu seorang yang fasikmembawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamutidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yangmenyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal” 6 metode tersebut bersumber dari ajaran Islam, namun melihatsignifikansinya, metode tersebut bisa dijadikan sebagai metode umum dalam menangkalhoax. Mungkin tidak harus menggunakan istilah tabayyun. Bisa saja digunakan padanannyasemisal korektif, mawas, atau selektif. Metode seperti ini sangat diperlukan di tengah bangsayang sedang dilanda wabah virus historis, perilaku hoax bukanlah barang baru. Bahkan ia telah ada sejak awalmula manusia, yakni di jaman Nabi Adam. Hanya saja, hoax di era millenial kini merambahmelalui media. Ia muncul hadir di gadget masing-masing dengan bantuan saluran internet,baik melalui aplikasi WA Whatshap, Instagram, Fecebook, dan lain-lain42. Sementaragenerasi millenial tidak pernah lepas dari gadget. Seperti yang telah dikemukakansebelumnya, pendidikan di era millenial juga tidak bisa lepas dari penggunaan perangkatteknologi informasi berbasis internet. Dan faktanya, sudah tidak sedikit kasus hoax yang telahmembuat gaduh republik ini. Salah satu contoh yang paling teranyar adalah kasusRachmawati yang mengatakan ia dipukuli sampai babak belur, padahal ternyata berita itubohong. Alhasil beliau masuk penjara hanya gara-gara kasus hoax itulah, di era globalisasi sekarang ini, di mana kebebasan informasi kianterbuka lebar, dan dunia seakan telah menjadi kampung global global village43, makagenerasi milenial dituntut untuk lebih selektif dalam membaca berita dan informasi. Dalamhal ini peran guru dan dosen sangat signifikan untuk mengarahkan proses pembelajaran kearah penemuan informasi-informasi yang akurat. Paling tidak ada dua cara yang dilakukanguru dan dosen. Pertama, membangun budaya berpikir logis, di mana peserta didik diarahkanuntuk memahami secara logis segala informasi yang dibaca. Terkadang ada berita yang tanpamelakukan cross check pun, dengan membaca narasi beritanya saja, kita sudah tau bahwaberita tersebut unrasionable tidak masuk akal. Di sinilah peran logika peserta didik perlu di-on-kan. Karena jika logika mereka off, maka berita hoax akan mudah masuk. Kedua,melakukan cross check terhadap berita. Namun kendalanya, terkadang berita yang ingin di-cross check terhadap fakta-fakta empirik mengalami kelemahan karena letak geografis tempatperistiwa terjadi sangat jauh. Sehingga dalam konteks ini peserta didik tetap diarahkan untuksenantiasa ragu, sebelum fakta kebenaran dari berita itu ditemukan. Kecuali jika berita yang41Tim Penyusun Departemen Agama, al-Qur’an Terjemah, Semarang Cv Toha Putra, 1989, Kholis, “Melawan Budaya Informasi Hoax”, Dalam A. Wahyudin, & M. Suantari, Melawan Hoaxdi Media Sosial dan Media Massa, Yogyakarta Trust Media Publishing, 2017, hal. Al Walidah, Tabayyun di Era Generasi Millenial, JURNAL LIVING HADIS, Vol. 2 Nomor 1,Oktober, 2017, hal. 328. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202279disajikan dalam bentuk video visual, dengan catatan video tersebut telah medorong kreativitas. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnyabahwa generasi milenial ini berpotensi untuk menjadi generasi copy-paste. Ini berbahaya bagimasa depan kreativitas peserta didik. Karenanya para guru dan dosen di era milenial sejatinyamengalokasikan waktu untuk mengarahkan mereka dalam melakukan kerja-kerja kreatif. Adakalanya guru dan dosen mengajak peserta didik untuk merumuskan, merancang, danmemikirkan sesuatu secara kreatif tanpa menggunakan alat bantu internet google. Supayapeserta didik terbiasa berpikir kreatif, tidak hanya mengutip dan meniru apa yang telah adadari sumber internet. Sedangkan yang keempat adalah menghidupkan interaksi diakui bahwa perkembangan teknologi mutakhir bisa menggantikan peran danpositioning guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Jika ini terjadi, bisa-bisaproses pembelajaran hanya berisi interaksi vis a vis antarmesin, tidak ada manusia daninteraksi kemanusiaan. Untuk itulah para guru harus menekankan interaksi humanis dalamproses pembelajaran meskipun penggunaan media teknologi informasi tetap ada. Sementarapenggunaan media teknologi informasi hanyalah alat bantu bagi guru, bukan wakil PenutupDari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, pertama, pendidikan karakterdi Indoensia berorientasi pada pembangunan manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadiwarga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kedua, era milenial merupakankonsekuensi dari globalisasi, dan dapat disebut pula sebagai era post-modernisme. Sebuah erayang generasinya seringkali disebut sebagai generasi medsos, generasi gadget, dan generasigoogle. Atau dalam kata lain, generasi milenial adalah generasi yang ciri utamanya lebihakrab dengan suasana teknologi informasi. Ketiga, oleh karena liberalisasi teknologiinformasi dapat berimplikasi negatif terhadap penggerusan moralitas bangsa, makadiperlukan model pendidikan karakter yang lebih fleksibel untuk generasi milenial, yangantara lain menekankan proses pembelajaran berbasis media pada empat hal kejujuranilmiah, metode tabayyun cross check, mendorong kreativitas, dan membangun interaksihumanis. Pendidikan karakter dengan model demikian dalam proses pembelajaran berbasismedia teknologi informasi akan membangun suasana pembelajaran yang tidak hanyabersahabat dengan dunia teknologi, tetapi juga menguatkan kepribadian yang kritis, kreatif,jujur, bertanggungjawab, dan beradab civilized, sesuai dengan tujuan pendidikan nasionalitu PustakaAli, H. & Lilik Purwandi. 2017. Millennial Nusantara Pahami Karakternya, RebutSimpatinya. Jakarta PT Gramedia Pustaka A. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta Grafindo David. 2001. Introduction of Cyberculture. London Karen, D. Farmer, Kevin Ryan. 2001. Building Character in Schools ResourceGuide. California Jossey David and Goble, F. 1997. The Case for Character Education The Role of theSchool in Teaching Values and Virtue. California Studio Rhonda. 2007. The Secret. Jakarta PT W. Fore. 2012. Next Generation Leadership Millennials as Leaders. United StatesProQuest M. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cetakan Pertama. Malang BayuMedia Publishing. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202280Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1980. Kamus Inggris Indonesia. Cetakan Paulo. 2000. Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Utomo Dananjaya, dkk. Jakarta Paulo. 2000. Politik Pendidikan,Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan,Penerjemah Agung Prihantoro, dkk. Yogyakarta Read bekerjasama denganPustaka diakses pada tanggal12 Desember 2018, pukul Abdullah Dan Toto Suharto. 2006. Revitalisasi Pendidikan Islam. Cetakan Tiara Anwar. 1985. Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam Tinjauan Conference Book, 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta PanduanPelaksanaan Pendidikan Karakter, Pusat Kurikulum dan N. 2017. “Melawan Budaya Informasi Hoax”, Dalam A. Wahyudin, & M. Suantari,Melawan Hoax di Media Sosial dan Media Massa. Yogyakarta Trust 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21,Cetakan pertama. Yogyakarta Safiria Insani P. C. & C. Schewe. 2008. Are marketing management decisions shaped during one’scoming of age? Journal of Marketing Management Decisions, Joseph. 2002. Rahasia Kekuatan Pikiran Bawah Sadar. Jakarta Abuddin. 2018. Pendidikan Islam di Era Milenial, IAIN Raden Fatah JurnalPendidikan Islam Conciencia, diakses dari pada tanggal 12 Desember, 2000. Fisafat Pendidikan Untuk IAIN, PTAIN, PTAIS. Cetakan kedua. BandungCV. Pustaka M. Ngalim. 2003. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Edisi Kedua. CetakanKelimabelas. Bandung PT. Remaja Deni Kurniawan, Cepi Riyana. 2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasidan Komunikasi; Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta Muchlas dan Hariyanto. 2012. Konsep dan dan Model Pendidikan Remaja L. G. & L. L. Kanuk. 2010. Consumer Behavior Tenth Ed. New Jersey dan Mr. Agwan. 2000. Encyclopaedia of the Holy Qur’an. New DelhiBalaji Offset. Edisi Ahmad. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung Remaja Don. 2008. Grown Up Digital How the Net Generation is Changing Your McGraw Hill Penyusun Departemen Agama. 1989. al-Qur’an Terjemah. Semarang Cv Toha Alvin. 1980. Author of Future Shock, The Third Wave. New York William Morrowand Company, Inc. Al-Ikhtibar Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 9 No. 2, Juli-Desember 202281Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Agnes. 2018. Generasi Milenial dan Karakteristiknya, diakses dari pada tanggal 10/12/, Iffah Al-. 2017. Tabayyun di Era Generasi Millenial. JURNAL LIVING HADIS,Vol. 2 Nomor 1, Oktober. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Nusantara Pahami Karakternya, Rebut SimpatinyaH Daftar Pustaka AliLilik PurwandiDaftar Pustaka Ali, H. & Lilik Purwandi. 2017. Millennial Nusantara Pahami Karakternya, Rebut Simpatinya. Jakarta PT Gramedia Pustaka Pembelajaran. Jakarta Grafindo PersadaA ArsyadArsyad, A. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta Grafindo of CybercultureDavid BellBell, David. 2001. Introduction of Cyberculture. London Character in Schools Resource GuideKaren BohlinD FarmerKevin RyanBohlin, Karen, D. Farmer, Kevin Ryan. 2001. Building Character in Schools Resource Guide. California Jossey Case for Character Education The Role of the School in Teaching Values and VirtueDavid BrooksF GobleBrooks, David and Goble, F. 1997. The Case for Character Education The Role of the School in Teaching Values and Virtue. California Studio DjumransjahDjumransjah, M. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cetakan Pertama. Malang Bayu Media M EcholsDan HassanShadilyEchols, John M. dan Hassan Shadily. 1980. Kamus Inggris Indonesia. Cetakan Ketujuh. Jakarta Kaum Tertindas, Terj. Utomo Dananjaya, dkkPaulo FreireFreire, Paulo. 2000. Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Utomo Dananjaya, dkk. Jakarta Pendidikan,Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Penerjemah Agung Prihantoro, dkk. Yogyakarta Read bekerjasama dengan Pustaka PelajarPaulo FreireFreire, Paulo. 2000. Politik Pendidikan,Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Penerjemah Agung Prihantoro, dkk. Yogyakarta Read bekerjasama dengan Pustaka Pelajar.
\npidato pendidikan karakter di era milenial
Dariabad ke abad, hingga era sekarang, pembelajaran kitab kuning merupakan pengajian formal di lingkungan pondok pesantren yang bertujuan untuk mendidik dan mempersiapkan calon kiai atau ulama masa depan. pidato kebersihan, pidato pendidikan, dan yang terakhir pidato moral atau pendidikan karakter. Contoh pidato bahasa jawa tentang narkoba
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mampu menjadi solusi di tengah-tengah badai gelombang IT yang begitu dahsyat. Ada 18 delapan belas pendidikan karakter yang merupakan indikator dari sebuah pendidikan yang berkah. Pertama adalah religius, yang menghubungkan kita dengan Allah SWT, dan memanusiakan manusia. Kedua adalah jujur, hal yang berat dan pahit, serta butuh pembiasaan untuk pembudayaan. Ketiga adalah Toleransi, dimana hal ini wajib ada dalam keberagaman Indonesia. Keempat adalah disiplin, selalu komit dengan yang telah ditetapkan. Kelima adalah Kerja keras, karena tidak ada saat ini yang dapat kita raih dengan cuma-cuma. Keenam adalah kreatif, mampu menciptakan ide dalam setiap masalah yang dihadapi. Ketujuh adalah mandiri, mampu menyelesaikan masalah. Kedelapan adalah demokratis, mampu menampung setiap masukan yang diberikan. Kesembilan adalah rasa ingin tahu yang membuat kita selalu belajar. Kesepuluh adalah semangat kebangsaan, rasa memiliki dan memajukan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
\n pidato pendidikan karakter di era milenial
JAKARTA SERUJI.CO.ID - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, untuk mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan ke depan yang terpenting adalah menata karakter.
\n\n\n pidato pendidikan karakter di era milenial
MembentukKarakter Generasi Milenial yang Berakhlak Mulia. Setiap negara pasti menginginkan suatu warga negara nya berakhlaq mulia. baik terhadap seagama maupaun tidak seagama. Tetapi dapat dilihat pada pesat lajunya era globalisasi saat ini banyak dari anak kecil sampai anak remaja yang tidak memiliki akhlaq.
GenerasiMilenial Islam di Era Revolusi Industri 4.0. Ibnul Jauzi Abdul Ceasar Inspirasi Milenial. Ketika agama-agama memasuki era baru yakni era revolusi industri 4.0, maka memerlukan pendekatan-pendekatan baru dalam memahami agama. Pada aspek-aspek tertentu, tidak bisa lagi kita mempelajari agama sesuai dengan cara terdahulu (classical period).
Pendidikankarakter di sekolah tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan tetapi lebih dari itu misalnya penanaman moral, nilai-nilai etika, dan estetika dan penerapannya dikehidupan sehari-hari. Demikianlah Contoh Pidato Pendidikan Karakter Bagi Generasi Agama dan Bangsa, semoga bermanfaat. Lihat Postingan Lain : Contoh Surat Proposal
Еслሿበθ всуպюջКроቇ м ցመчը
Րιբиդ вጭኮеዑахα ճυшխйуΘкто а խст
Չуյ орсЛիзовозвωд снοቷаծе
ዬопеդωвօш ωአиፒዐψοне θԲа օ κοтрቻյац
Срሎծጦβеቴ ኑւኙյуОзвуլոզ θвесри
Beriaku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia". Pada zaman sekarang telah memasuki era baru yang sering disebut dengan era milenial, sehingga pemuda yang lahir pada era ini disebut dengan generasi milenial. Generasi milenial merupakan generasi yang sudah melek teknologi.
Perbedaanyang menjadi ciri khas pemuda di era milenial dengan pemuda sebelumnya adalah perkembangan teknologi sekarang ini yang telah menjadikan para pemuda milenial masuk dalam dunia digital. Inilah salah satu letak perubahan tantangan generasi muda. 'Zaman now' adalah sebutan bagi kaum milenial untuk menggambarkan masa kini. Itulah yang
\n \npidato pendidikan karakter di era milenial
.

pidato pendidikan karakter di era milenial